Akhirnya aku berangkat jam 10.00 WIB karena harus nunggu Tante Lulu dulu. Kebetulan beliau juga mau ikut workshop ini. Setelah itu, berangkatlah kami menuju TKP.
Mas yang baju ungu inilah pembimbing kami. Tapi aku enggak tahu namanya, kan tadi telat, hehe. Tapi kita sebut saja Mas Baju Ungu.
Setelah penjelasan selesai. Kami digiring masuk ke ruangan untuk langsung mempraktikkan apa yang tadi sudah dijelaskan oleh Mas Baju Ungu.
Waktu aku lihat hasil karyaku sendiri setelah dicelup HCL, rasanya malu banget deh. Tapi aku berusaha menenangkah hatiku sendiri. Wong baru pertama kali ini, kok. Jadi ya maklumin aja kemampuan kamu. Warna daun yang tadinya dicolet dengan warna merah, setelah dicelup HCL warna daun berubah menjadi hijau.
Sebenarnya itu yang menjadi pertanyaanku. Berarti kita harus tahu dulu dong perubahan warna X setelah dicelup HCL. Seperti halnya warna merah yang berubah menjadi warna hijau. Kalau seumpama setelah dicelup HCL perubahan warnanya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, bagaimana? Aku belum sempat tanya, soalnya yang ikut banyak banget. Semoga secepatnya bisa dapat pencerahan mengenai ini.
Berhubung waktu makan siang sudah tiba, akhirnya kami pun masuk ke ruangan dan makan siang dengan nasi kotak yang dibagikan oleh panitia.
Sejak saat itulah aku makin suka
berbatik riya. Apalagi ibuku, beliau senang sekali setelah aku
share pengalaman membuat
batik ini dengan menunjukkan foto-foto di atas pada beliau.
Setelah itu, aku dan ibuku sering kompakan beli kain
batik dengan motif yang sama, kami juga sama-sama berdiskusi mengenai desain
batik kami sendiri sebelum menyerahkannya kepada tukang jahit. Kami suka membuat baju dengan model yang sama. Tujuannya tentu saja biar semakin kembar dan semakin terlihat kompak. Banyak yang bilang aku itu
fotocopy ibuku waktu muda. Lagi pula ibuku juga tidak terlihat setua umurnya. Orang-orang kadang mencandai kami bahwa kami mirip adik dan kakak. Apalagi pakai
batik yang corak dan modelnya sama persis. :)
2. PENGALAMANKU MEMAKAI BATIK
Selain koleksi bajuku dan ibu yang bermodel sama. Ada bermacam-macam model baju
batik lain yang aku punya. Kadang-kadang aku juga beli kain
batik yang biasanya aku jahitkan sepasang dengan calon suamiku, atau lebih dikenal dengan sarimbit. Harga baju sarimbit yang sudah siap pakai di
toko batik yang ada di Bojonegoro relatif mahal. Memang sih bagus, tapi waktu itu aku punya pendapat bahwa,
ah cari yang murah aja, tapi sering gonta-ganti. Sebenarnya ini pendapat yang akhir-akhir ini aku anggap keliru. Karena
batik yang mahal itu memang
batik yang bagus dan berkualitas.
Terhitung, aku dan Mas Widy, calon suamiku, punya tiga sarimbit. Masing-masing berwarna, kuning, merah bata, dan biru. Untuk sarimbit yang warnanya kuning, aku dulunya beli berupa kain, lalu aku jahitkan ke tukang jahit. Sedangkan yang warna merah bata, beli jadi di
toko batik, karena saat itu, waktu penggunaannya mepet banget. Jadi waktu itu ada teman SMA-ku yang mau nikah, aku bingung, pasti rasanya tidak lengkap kalau aku dan Mas Widy tidak memakai sarimbit di sebuah acara pernikahan. Jadi meluncurlah aku ke
toko batik. Awalnya mau beli di
toko batik online, tapi dipikir-pikir nanti masih harus nunggu
batiknya sampai. Normalnya butuh waktu sekitar tiga hari baru sampai.
Ya udahlah beli di toko aja, kata ibuku.
Enggak cocoknya aku sama
batik yang beli di toko adalah ukurannya yang tidak sesuai dengan badanku. Selalu kebesaran. Aku emang berperawakan kurus. Jadi bingungnya, ukuran
batik yang buat cowok pas, tapi yang buat ukuranku kebesaran. Akhirnya aku harus mengalah untuk mengubah ukurannya ke tukang jahit.
Batik yang berwarna biru kami beli di Solo. Waktu itu ceritanya, adikku yang nomor satu kecelakaan sampai tangan kanannya patah, dan harus dibawa ke RS. Kustati di Solo. Kebetulan waktu itu, aku dan Mas Widy nengokin dia di sana. Waktu sore-sore kami iseng keluar rumah sakit dan pengin jalan-jalan naik becak keliling alun-alun dan keraton. Eh si tukang becak tiba-tiba aja nanya, "
Mbak, Mas, mboten pengin tumbas batik? Teng mriki celak kalian peken." yang artinya, "Mbak, Mas, nggak pengin beli
batik? Di sini dekat sama pasar." Kami yang memang berencana membeli
batik pun langsung mengiyakan tawaran bapak tukang becak. Kami dibawa ke sebuah
butik batik yang lumayan besar. Tapi kelihatannya juga melayani para tengkulak yang ingin menjual kembali
batik-
batik yang diproduksi di
butik batik tersebut.
Nah, dari ketiga
batik itulah aku bisa membedakan kualitas
batik berdasarkan harganya. Ternyata, beda harga beda pula kualitas dari
batik itu sendiri.
3. PENDAPATKU TENTANG MASA DEPAN BATIK
Setelah mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), semestinya kita patut bersyukur karena
batik dinyatakan sebagai warisan budaya tak benda tingkat dunia. Hal ini jelas sangat berpengaruh besar terhadap masa depan
batik itu sendiri. Namun hal tersebut harus pula ditunjang oleh kecintaan dan rasa bangga masyarakat Indonesia sendiri pada
batik. Sebab, bila masyarakat sudah bangga dan cinta, maka mereka pun tidak segan-segan mengenalkan
batik pada negara lain, dan justru merasa bangga memiliki peninggalan
batik yang indah, memiliki ciri khas dan nilai budaya yang tinggi.
Saat ini perkembangan
batik sudah sangat pesat. Terlihat dari kian menjamurnya
butik batik dan
toko batik online, juga masyarakan yang mulai sadar untuk mengenakan
batik di berbagai acara penting mereka.
Baru-baru ini muncul berita yang menghebohkan mengenai
batik China yang mulai mengancam
batik asli Indonesia. Dikabarkan banyak beredar
batik dengan harga sangat murah di berbagai pasar
batik Salah satunya di Pasar Klewer Solo. Banyak
batik dengan motif campuran antara parang rusak, flora, dan juga beberapa gambar hewan yang dijual dengan harga mulai Rp. 25.000,- – Rp. 30.000,- untuk satu potong baju atasan.
Harga di atas rasanya kurang masuk akal, meskipun untuk kualitas
batik cetak sekalipun. Bayangkan saja untuk biaya kain, biaya cetak, biaya potong dan juga biaya jahit, bagaimana bisa semurah itu? Tak bisa dibayangkan. Gambar di bawah ini adalah contoh
batik dari China.
 |
| sumber gambar dari sini |
Meski dari segi kualitas
batik Indonesia jauh lebih bagus dibanding
batik China, namun kita harus terus waspada dan melakukan antisipasi agar
batik asli Indonesia tidak kalah populer dengan
batik China di negeri sendiri.
Dan sebagai langkah antisipasi, kita tidak boleh malas untuk mengenalkan
batik Indonesia ke ranah internasional. Mengenalkan
batik dapat ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengenakan
batik pada berbagai acara penting. Seperti halnya Agnes Monica. Memang terkadang aku kurang suka dengan model pakaiannya yang terlalu terbuka, tapi jujur aku sangat salut sekali saat dia mengenakan
batik di berbagai acara internasional. Hem, cantik, ya!
 |
| sumber gambar dari sini |
 |
| sumber gambar dari sini |
Di samping itu semua, aku juga sangat bangga sekali karena di kota kelahiranku Bojonegoro, sudah mulai menggali potensi desain
batik baru lewat lomba-lomba yang diadakan sebagai sarana penjaring desain baru yang dianggap mewakili ciri khas Kota Bojonegoro.
Aku sih sempat mau ikut, tapi berhubung waktu itu ada sesuatu hal yang harus didahulukan dibanding ikut lomba, jadi ya kesempatan itu harus rela aku lepaskan. Huhu... Tapi hal tersebut tidak lantas membuatku tidak mencintai
batikhasil karya masyarakat Bojonegoro, kok. Terbukti salah satu koleksi
batikku adalah
batik asli Bojonegoro.
Untuk saat ini sebagai bukti cintaku pada
batik Bojonegoro, aku akan mengenalkan pada kalian beberapa desain
batik Bojonegoro lengkap dengan filosofi yang ada di dalamnya. Ini dia;
1. GATRA RINONCE
Visualisasi perpaduan RIG (alat mengambil minyak) dan gas bumi digambarkan sulur dan bunga , dimana satu dan lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemuliaan, dan keindahan. Ga (Gas) Tra (Patra) berarti minyak dan gas, Rinonce (bahasa Jawa) berarti ditata satu persatu,dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah sehingga bermakna adanya gas dan minyak bumi, apabila dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Bojonegoro.
2. SEKAR JATI
Tanaman jati, mulai dari akar, pohon dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan baku meubelair, kerajinan bubut kayu. Tunggak dan akarnya (gembol) dapat diolah menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Sekar (bahasa Jawa) berarti bunga, jati (pohon jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan perkembangannya sentra-sentra kerajinan kayu jati (meubel, bubuk kayu, gembol) sebagai roda kemajuan dan kreativitas masyarakat Bojonegoro dalam mengolah dan memanfaatkan tanaman kayu jati agar dapat meningkatkan taraf hidup.
3. JAGUNG MIJI EMAS
Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jagung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung, miji (bhs jawa) berarti berbiji, emas, memiliki makna tanaman jagung di Bojonegoro adalah yang terbaik sehingga dapat meningkatkan nama Bojonegoro dengan hasil panen jagungnya.
4. MLIWIS MUKTI
Mliwis mukti adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di wilayah kabupaten Bojonegoro. Mliwis (bahasa Jawa) berarti burung belibis jelmaan prabu angling dharmo, Mukti (bhs.jawa) berarti mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi, bukan sembarang meliwis, karena jelmaan raja, yang dapat momotivasi masyarakat Bojonegoro untuk bekerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
5. PARANG DAHANA MUNGAL (KAYANGAN API)
Kayangan api adalah salah satu objek wisata andalan di kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api PON XV tahun 2000. Parang (bahasa Jawa) bearti rmiring, dahana (bahasa Jawa) berarti api, mungal (bahasa Jawa) berarti menyala/berkobar sepangang waktu. Simbol masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat sekitarnya.
6. PARANG LEMBU SEKAR RINAMBAT
Sapi yang ditambatkan di kandang berbentuk barisan miring dengan kombinasi warna hitam-putih menggambarkan di masa mendatang Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat pengembangan peternakan sapi. Parang lembu (bahasa Jawa) berarti deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring. Sekar Rinambat, (bahasa Jawa) berarti bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang lembu sekar rambat bermakna; Kabupaten Bojonegoro dikenal harum karena peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
7. PARI SUMILAK
Kesuburan tanah (warna cokelat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat apabila ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga mampu meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa Jawa) berarti padi, sumilak (bahasa Jawa) berarti sudah mulai menguning dan siap dipanen,sehingga secara keseluruhan “pari sumilak” mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di seluruh wilayah Bojonegoro. Diharapkan di masa datang Bojonegoro menjadi lumbung padi.
8. RANCAK THENGUL
Wayang thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro. Berbentuk tiga dimensi, terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita, menak dan panji. Gunungan/kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa Jawa) mengandung arti seperangkat Rancak Thengul sebagai warisan kesenian tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan Pusaka Budaya (cultural heritage).
9. SATA GANDA WANGI (TEMBAKAU)
Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal seluruh nusantara sehingga menjadi salah satu produk unggulan lainnya, selain kayu jati. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma yang khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa Jawa) berarti tembakau, ganda (bahasa Jawa) berarti aroma, wangi (bahasa Jawa) berarti harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya. [Referensi : dari
sini dan dari
sini]
Cerah dan tidaknya masa depan
batik nantinya adalah tergantung dari peduli atau tidaknya kita terhadap warisan nusantara kita sendiri. Jadi mari kita cintai dan perkenalkan warisan kita pada dunia agar semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya budaya.
4. BEBERAPA KOLEKSI BATIKKU
Ini hanya beberapa dari koleksi
batik punyaku. Tidak mungkin juga aku foto semua. Nah, yang baju warna putih itulah contoh
batik Jonegoroan.
Batiknya percampuran antara Gatra Rinonce dan Mliwis Mukti. Sepertinya aku mesti update koleksi batikku lagi deh. Semoga saja ada rejeki. Aamiin.
Dan demikianlah ceritaku mengenai Aku dan
Batik Semoga bermanfaat. Salam :)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam;
NB : Terhitung ada 28 gambar di postingan ini, aku beri keterangan seperti ini karena takutnya ada beberapa gambar yang tidak muncul. Kadang-kadang itu terjadi bila kecepatan internet tidak stabil. Dalam postingan ini, ada satu gambar yang mewakili setiap proses kegiatan membatik. Terima kasih :)