Aku dan Batik. Sepertinya itu judul yang pas buat postingan kali ini. Karena aku bakal membahas banyak hal mengenai batik; mulai dari pengelamanku membuat batik, beberapa koleksi batik yang sudah aku punyai, dan aku juga bakal mengomentari tentang masa depan batik menurut pengamatanku sendiri.
Hari gini siapa sih yang tidak kenal batik? Kain bermotif gambar-gambar keren yang mempunyai filosofi tertentu di dalamnya. Oke baiklah, sebelum kita membahas itu semua, sebaiknya kita bahas dulu asal mula kata 'batik' dan sebenarnya kapan, sih, batik itu mulai menyebar dan menjadi heboh di seantero Indonesia? Check this out!
SEJARAH BATIK
Batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata “amba” yang berarti menulis dan “nitik” yang berarti membuat titik. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna. Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanananannya memunculkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkannya.
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis di atas daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Dalam sejarahnya, batik mengalami beberapa perkembangan, yang awalnya hanya berupa lukisan binatang dan tanaman, lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Waktu itu, bahan kain putih yang dipergunakan adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain; dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, sedangkan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. Kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit, dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Dulu, batik hanya digunakan oleh kalangan kerajaan saja. Rakyat biasa masih belum ada yang mengenakan batik Adapun mulai meluasnya pemakaian batik ini ialah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX. [referensi : delta fm]
Batik sendiri sekarang sudah menjadi ciri khas budaya Indonesia yang sudah dikenal di kancah internasional sejak ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO. UNESCO memasukkan batik e dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity), dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda yang diselenggarakan pada tanggal 28 September 2009 hingga 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
UNESCO mengakui bahwa batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia. Terlihat dari budayanya, batik dipakai sebagai pelangkap tradisi yang sudah melekat pada masyarakat mulai dari lahir sampai meninggal; seperti halnya bayi yang digendong dengan kain batik bercorak simbol tertentu yang dipercaya akan membawa keberuntungan, dan orang yang meninggal juga ditutup dengan kain batik panjang yang oleh orang Jawa biasa disebut sebagai 'jarik'. [referensi dari : indonesiamedia.com dan antaranews.com]
Setelah kita mengetahui asal mula kata batik lengkap dengan sejarah dan perkembangannya, seperti yang aku sampaikan sebelumnya, selanjutnya kita akan membahas tentang beberapa hal mengenai aku dan batik.
1. PENGALAMANKU MEMBUAT BATIK
Waktu itu pagi-pagi aku lagi asik baca buku seperti biasa. Sekitar jam 09.00 WIB, ibuku bilang kalau ada undangan workshop pembuatan batik di salah satu Koperasi di Bojonegoro tepat jam 9 pagi itu juga. Berhubung Ibuku sibuk mengurusi adikku yang masih TK, dan karena jam segitu adikku belum pulang, akhirnya akulah yang diminta mewakili buat ikutan workshop pembuatan batik Wuih, aku langsung semangat waktu itu. Kenapa? Karena aku hobi banget gambar. Dan membatik adalah bagian lain dari menggambar tapi dengan proses yang berbeda. Hore! Bakal dapet pengalaman baru, nih! teriak otakku yang haus pengelaman, girang.
Akhirnya aku berangkat jam 10.00 WIB karena harus nunggu Tante Lulu dulu. Kebetulan beliau juga mau ikut workshop ini. Setelah itu, berangkatlah kami menuju TKP.
Sesampainya di lokasi, ternyata kami sudah ketinggalan banyak penjelasan dari pembimbing. Setelah tandatangan, aku dan Tante Lulu diberi tas kertas yang isinya peralatan membatik, termasuk kain lebar polos berwarna putih. Setelah itu kami langsung meluncur menuju pembimbing untuk mendengarkan penjelasan tentang cara membatik sebagai Kegiatan #1 kami.
Mas yang baju ungu inilah pembimbing kami. Tapi aku enggak tahu namanya, kan tadi telat, hehe. Tapi kita sebut saja Mas Baju Ungu.
Setelah penjelasan selesai. Kami digiring masuk ke ruangan untuk langsung mempraktikkan apa yang tadi sudah dijelaskan oleh Mas Baju Ungu.
Kegiatan #2 yaitu TAHAP MENGGAMBAR POLA ATAU ORNAMAEN. Kami harus menggambar ornamen utama pada kain putih polos yang tadi ada di tas kami masing-masing. Peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan Kegiatan #2 ini adalah :
- Pensil 4B dan Penghapus. Pensil 4B dan Penghapus digunakan untuk menggambar dan memberi garis kain sebelum dicanting
- Kain Putih Polos (Mori)
Langkah-langkah di Kegiatan #2 ini gampang sekali. Cuma harus menjiplak motif bunga pada kertas dan menggambarnya kembali di atas kain putih polos. Beginian anak TK juga bisa :D
Kegiatan #3 yaitu TAHAP MENCANTING. Mencanting adalah menulis dengan lilin batik pada pola yang sudah dibuat. Untuk kegiatan mencanting ini, yang kita perlukan adalah :
- Wajan. Wajah adalah perkalas untuk mencairkan malam (lilin). Wajan terbuat dari logam baja atau tanah liat. Sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
- Canting. Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan malam. Canting ini berukuran kecil, terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.
- Kompor Kecil. Kompor yang biasa digunakan adalah kompor dengan bahan bakar minyak yang berguna sebagai media pemanas dalam mencarikan malam (lilin) supaya malam akan mudah menyerap pada kain yang sudah diberi motif.
- Malam (lilin). Malam ini berfungsi untuk memberi garis atau batas agar ketika proses pewarnaan, warna tidak merembet pada bagian di luar pola dasar.
- Saringan Malam. Saringan berfungsi untuk menyaring malam panas yang banyak kotorannya. Jika malam disaring maka kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu dipergunakan untuk membatik.
- Dingklik. Dingklik adalah sebutan orang Jawa untuk kursi kecil sebagai tempat duduk para pembatik.
Langkah-langkahnya :
Cukup menebali motif yang sebelumnya dibuat dengan menggunakan malam (lilin) yang sudah dipanaskan di atas kompor kecil.
Kegiatan #4 TAHAP PENCOLETAN adalah mencolet atau mendulit gambar tertentu, misalnya bunga, daun dll.
Dalam kegiatan ini yang diperlukan adalah :
- Alat Dulit / Rotan. Alat ini adalah alat terbuat dari rotan. Bentuknya lancip pada ujung seperti pensil.
- Pewarna
- Gelas. Gelas berfungsi sebagai wadah untuk pewarna.
Pada proses ini, pewarnaan menggunakan cara dicolet atau didulit, yaitu memberi warna pada pola tertentu (bunga, daun) dengan larutan zat warna yang dikuaskan atau didulitkan pada daerah yang telah dibatasi garis-garis lilin, sehingga warna tidak merembes pada daerah di luar pola yang telah dicanting.
Bahan :
Bahan :
- Indigisol : 5 gram
- Nitrid : 3 gram
Caranya :
- Indigisol dan Nitrid diaduk dengan air panas dan dingin, kemudian dicoletkan pada motif batik tertentu.
- Pada saat proses pencoletan, warna harus sering diaduk supaya tidak mengendap.
- Setelah itu, dijemur di tempat yang teduh sampai kering.
Bila lilin pada saat mencanting kurang tebal atau tidak menembus pada balik kain, maka hasilnya akan seperti punyaku ini. Warna akan mbeleber atau menembus keluar pola, karena lilin yang seharusnya berfungsi sebagai pembatas warna tidak meresap sempurna pada kain.
Waktu di sana aku termasuk peserta termuda yang ikut pelatihan. Ya maklum, harusnya pelatihan ini buat seumuran ibuku dan teman-temannya yang usianya rata-rata berkepala empat. Tapi keuntungan belajar bareng ibu-ibu adalah, mereka telaten sakali membimbingku yang baru satu kali itu belajar membuat batik.
Kegiatan #5 yaitu TAHAP PEMBANGKITAN WARNA/FIKSASI. Tahap ini kain direndam dengan larutan HCL untuk membangkitkan warna hasil coletan atau biasa dikenal dengan proses fiksasi.
Bahan :
- HCL : 300 cc
- Nitrid : 10 gram
Caranya :
- Nitrid diaduk dengan air panas 200 cc
- Nitrid dan HCL dicampur ke dalam bak yang sudah terisi air dingin sebanyak 5 liter
- Masukkan kain yang sudah dicolet untuk dibangkitkan warnanya kurang lebih 5 menit
Kegiatan #6. TAHAP PENGERINGAN. Setelah dicelupkan ke larutan HCL, kain harus dibilas dengan air biasa sampai bersih. Kemudian dikeringkan.
Waktu aku lihat hasil karyaku sendiri setelah dicelup HCL, rasanya malu banget deh. Tapi aku berusaha menenangkah hatiku sendiri. Wong baru pertama kali ini, kok. Jadi ya maklumin aja kemampuan kamu. Warna daun yang tadinya dicolet dengan warna merah, setelah dicelup HCL warna daun berubah menjadi hijau.
Sebenarnya itu yang menjadi pertanyaanku. Berarti kita harus tahu dulu dong perubahan warna X setelah dicelup HCL. Seperti halnya warna merah yang berubah menjadi warna hijau. Kalau seumpama setelah dicelup HCL perubahan warnanya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, bagaimana? Aku belum sempat tanya, soalnya yang ikut banyak banget. Semoga secepatnya bisa dapat pencerahan mengenai ini.
Berhubung waktu makan siang sudah tiba, akhirnya kami pun masuk ke ruangan dan makan siang dengan nasi kotak yang dibagikan oleh panitia.
Setelah makanan habis, kami pun diminta untuk istirahat sebentar sambil sholat untuk peserta yang beragama islam. Waktu setengah jam pun terlewati. Kami pun harus mengikuti kegiatan cara membuat batik berikutnya.
Pada saat kegiatan ini, para peserta hanya diperbolehkan melihat pembimbing saja. Sedangkan kain yang tadi dijemur masih dibiarkan di tempat penjemuran karena memang belum kering. Waktu itu cuaca agak tidak menentu. Kadang redup dan kadang mendadak panas.
Kegiatan #7 yaitu TAHAP PENEMBOKAN / PEMOPOKAN. Bahan dan cara kerjanya adalah sebagai berikut :
Bahan :
Caranya :
Sebenarnya pada proses normalnya, setelah tahap penembokan, ada satu tahap yang disebut TAHAP PERESAPAN WARNA (PEMBUKAAN PORI-PORI KAIN). Karena proses tersebut memakan waktu semalaman, maka pelatih kami memutuskan untuk memakai kain yang memang sudah disiapkan sebelumnya untuk menjelaskan proses ini. Tapi biar lengkap, aku tuliskan saja ya bahan sekaligus caranya.
Bahan :
Kegiatan #8 yaitu PROSES PEWARNAAN ATAU PENCELUPAN WARNA. Bahan dan cara yang diperlukan dalam proses pewarnaan dan pencelupan warna ini adalah, sebagai berikut:
Pada saat kegiatan ini, para peserta hanya diperbolehkan melihat pembimbing saja. Sedangkan kain yang tadi dijemur masih dibiarkan di tempat penjemuran karena memang belum kering. Waktu itu cuaca agak tidak menentu. Kadang redup dan kadang mendadak panas.
Kegiatan #7 yaitu TAHAP PENEMBOKAN / PEMOPOKAN. Bahan dan cara kerjanya adalah sebagai berikut :
Bahan :
Caranya :
- Hasil pencoletan da pembangkitan warna (fiksasi) ditembok / ditutup dengan malam supaya warna coletan tidak kemasukan warna dasar.
- Proses penembokan harus rata dan tembus kebawah supaya warna dasar tidak bisa tembus.
Sebenarnya pada proses normalnya, setelah tahap penembokan, ada satu tahap yang disebut TAHAP PERESAPAN WARNA (PEMBUKAAN PORI-PORI KAIN). Karena proses tersebut memakan waktu semalaman, maka pelatih kami memutuskan untuk memakai kain yang memang sudah disiapkan sebelumnya untuk menjelaskan proses ini. Tapi biar lengkap, aku tuliskan saja ya bahan sekaligus caranya.
Bahan :
- TRO : 10 gram
- Air dingin : 5 liter
- TRO diaduk dengan air panas mendidih 200 cc, kemudian dimasukkan ke dalam bak yang sudah berisi air dingin 5 liter.
- Masukkan kain 2 meter yang sudah dicanting, dicolet, dan ditembok untuk direndam mulai malam sampai pagi untuk membentuk pori-pori kain dalam persiapan pewarnaan dasar.
Kegiatan #8 yaitu PROSES PEWARNAAN ATAU PENCELUPAN WARNA. Bahan dan cara yang diperlukan dalam proses pewarnaan dan pencelupan warna ini adalah, sebagai berikut:
Bahan :
- Naphtol ASBO : 15 gram
- TRO : 3 gram
- Kustik : 5 gram
- Garam Biru B : 20 gram
Caranya :
- Naphtol ASBO, TRO, Kustik diaduk dengan air panas 400 cc, lalu tuangkan ke dalam bak ke-1 sebanyak 200 cc, dicampur dengan air dingin 3 liter.
- Garam Biru B diaduk dengan air dingin 400 cc, lalu dituangkan ke dalam bak ke-2 sebanyak 200 cc, dicampur dengan air dingin 3 liter.
Proses pencelupan warna pertama :
- Celup kain yang sudah ditembok dan direndam dengan TRO ke dalam bak ke-1 untuk mendapatkan warna yang diinginkan, lalu angkat.
- Hasilnya dimasukkan / dicelupkan ke dalam bak ke-2 untuk menimbulkan warna. Agar hasilnya baik dan merata, serta tidak belang-belang, maka gerakan pencelupan harus cepat.
- Hasil pencelupan pertama dimasukkan ke dalam bak ke-3 yang terisi air dingin penuh untuk proses pembilasan.
Proses pencelupan warna kedua :
- Kain yang sudah dibilas dimasukkan / dicelupkan ke dalam bak ke-1 yang sudah ditambah adukan Napthol, TRO, dan Kustik 200 cc.
- Hasilnya dimasukkan ke dalam bak ke-2 yang sudah ditambah dengan adukan Garam Biru B sebanyak 200 cc untuk menghasilkan warna yang lebih tegas. Ingat gerakan pencelupan harus cepat.
- Hasilnya kemudian dibilas dengan air dingin sampai bersih
- Dalam proses pencelupan pertama maupun kedua harus dikerjakan oleh dua orang.
Kegiatan #9 yaitu TAHAP NGELOROD/PELEPASAN MALAM
Langkah-langkahnya :
Kain yang sudah dibilas dan dalam keadaan basah, dicelupkan ke dalam larutan kanji secukupnya. Kemudian dicelupkan kembali ke dalam panci yang sudah diisi air mendidih secara berulang-ulang untuk melepaskan malam (lilin) yang menempel pada kain.
Kegiatan #10 TAHAP PEMBILASAN. Setelah proses pelepasan malam, kain harus dicuci dengan air dingin sampai bersih, kemudian dijemur di tempat yang teduh sampai kering.
Sejak saat itulah aku makin suka berbatik riya. Apalagi ibuku, beliau senang sekali setelah aku share pengalaman membuat batik ini dengan menunjukkan foto-foto di atas pada beliau.
Setelah itu, aku dan ibuku sering kompakan beli kain batik dengan motif yang sama, kami juga sama-sama berdiskusi mengenai desain batik kami sendiri sebelum menyerahkannya kepada tukang jahit. Kami suka membuat baju dengan model yang sama. Tujuannya tentu saja biar semakin kembar dan semakin terlihat kompak. Banyak yang bilang aku itu fotocopy ibuku waktu muda. Lagi pula ibuku juga tidak terlihat setua umurnya. Orang-orang kadang mencandai kami bahwa kami mirip adik dan kakak. Apalagi pakai batik yang corak dan modelnya sama persis. :)
2. PENGALAMANKU MEMAKAI BATIK
Selain koleksi bajuku dan ibu yang bermodel sama. Ada bermacam-macam model baju batik lain yang aku punya. Kadang-kadang aku juga beli kain batik yang biasanya aku jahitkan sepasang dengan calon suamiku, atau lebih dikenal dengan sarimbit. Harga baju sarimbit yang sudah siap pakai di toko batik yang ada di Bojonegoro relatif mahal. Memang sih bagus, tapi waktu itu aku punya pendapat bahwa, ah cari yang murah aja, tapi sering gonta-ganti. Sebenarnya ini pendapat yang akhir-akhir ini aku anggap keliru. Karena batik yang mahal itu memang batik yang bagus dan berkualitas.
Terhitung, aku dan Mas Widy, calon suamiku, punya tiga sarimbit. Masing-masing berwarna, kuning, merah bata, dan biru. Untuk sarimbit yang warnanya kuning, aku dulunya beli berupa kain, lalu aku jahitkan ke tukang jahit. Sedangkan yang warna merah bata, beli jadi di toko batik, karena saat itu, waktu penggunaannya mepet banget. Jadi waktu itu ada teman SMA-ku yang mau nikah, aku bingung, pasti rasanya tidak lengkap kalau aku dan Mas Widy tidak memakai sarimbit di sebuah acara pernikahan. Jadi meluncurlah aku ke toko batik. Awalnya mau beli di toko batik online, tapi dipikir-pikir nanti masih harus nunggu batiknya sampai. Normalnya butuh waktu sekitar tiga hari baru sampai. Ya udahlah beli di toko aja, kata ibuku.
Enggak cocoknya aku sama batik yang beli di toko adalah ukurannya yang tidak sesuai dengan badanku. Selalu kebesaran. Aku emang berperawakan kurus. Jadi bingungnya, ukuran batik yang buat cowok pas, tapi yang buat ukuranku kebesaran. Akhirnya aku harus mengalah untuk mengubah ukurannya ke tukang jahit.
Batik yang berwarna biru kami beli di Solo. Waktu itu ceritanya, adikku yang nomor satu kecelakaan sampai tangan kanannya patah, dan harus dibawa ke RS. Kustati di Solo. Kebetulan waktu itu, aku dan Mas Widy nengokin dia di sana. Waktu sore-sore kami iseng keluar rumah sakit dan pengin jalan-jalan naik becak keliling alun-alun dan keraton. Eh si tukang becak tiba-tiba aja nanya, "Mbak, Mas, mboten pengin tumbas batik? Teng mriki celak kalian peken." yang artinya, "Mbak, Mas, nggak pengin beli batik? Di sini dekat sama pasar." Kami yang memang berencana membeli batik pun langsung mengiyakan tawaran bapak tukang becak. Kami dibawa ke sebuah butik batik yang lumayan besar. Tapi kelihatannya juga melayani para tengkulak yang ingin menjual kembali batik-batik yang diproduksi di butik batik tersebut.
Nah, dari ketiga batik itulah aku bisa membedakan kualitas batik berdasarkan harganya. Ternyata, beda harga beda pula kualitas dari batik itu sendiri.
3. PENDAPATKU TENTANG MASA DEPAN BATIK
Setelah mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), semestinya kita patut bersyukur karena batik dinyatakan sebagai warisan budaya tak benda tingkat dunia. Hal ini jelas sangat berpengaruh besar terhadap masa depan batik itu sendiri. Namun hal tersebut harus pula ditunjang oleh kecintaan dan rasa bangga masyarakat Indonesia sendiri pada batik. Sebab, bila masyarakat sudah bangga dan cinta, maka mereka pun tidak segan-segan mengenalkan batik pada negara lain, dan justru merasa bangga memiliki peninggalan batik yang indah, memiliki ciri khas dan nilai budaya yang tinggi.
Saat ini perkembangan batik sudah sangat pesat. Terlihat dari kian menjamurnya butik batik dan toko batik online, juga masyarakan yang mulai sadar untuk mengenakan batik di berbagai acara penting mereka.
Baru-baru ini muncul berita yang menghebohkan mengenai batik China yang mulai mengancam batik asli Indonesia. Dikabarkan banyak beredar batik dengan harga sangat murah di berbagai pasar batik Salah satunya di Pasar Klewer Solo. Banyak batik dengan motif campuran antara parang rusak, flora, dan juga beberapa gambar hewan yang dijual dengan harga mulai Rp. 25.000,- – Rp. 30.000,- untuk satu potong baju atasan.
Harga di atas rasanya kurang masuk akal, meskipun untuk kualitas batik cetak sekalipun. Bayangkan saja untuk biaya kain, biaya cetak, biaya potong dan juga biaya jahit, bagaimana bisa semurah itu? Tak bisa dibayangkan. Gambar di bawah ini adalah contoh batik dari China.
Meski dari segi kualitas batik Indonesia jauh lebih bagus dibanding batik China, namun kita harus terus waspada dan melakukan antisipasi agar batik asli Indonesia tidak kalah populer dengan batik China di negeri sendiri.
Dan sebagai langkah antisipasi, kita tidak boleh malas untuk mengenalkan batik Indonesia ke ranah internasional. Mengenalkan batik dapat ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengenakan batik pada berbagai acara penting. Seperti halnya Agnes Monica. Memang terkadang aku kurang suka dengan model pakaiannya yang terlalu terbuka, tapi jujur aku sangat salut sekali saat dia mengenakan batik di berbagai acara internasional. Hem, cantik, ya!
Di samping itu semua, aku juga sangat bangga sekali karena di kota kelahiranku Bojonegoro, sudah mulai menggali potensi desain batik baru lewat lomba-lomba yang diadakan sebagai sarana penjaring desain baru yang dianggap mewakili ciri khas Kota Bojonegoro.
Aku sih sempat mau ikut, tapi berhubung waktu itu ada sesuatu hal yang harus didahulukan dibanding ikut lomba, jadi ya kesempatan itu harus rela aku lepaskan. Huhu... Tapi hal tersebut tidak lantas membuatku tidak mencintai batikhasil karya masyarakat Bojonegoro, kok. Terbukti salah satu koleksi batikku adalah batik asli Bojonegoro.
Untuk saat ini sebagai bukti cintaku pada batik Bojonegoro, aku akan mengenalkan pada kalian beberapa desain batik Bojonegoro lengkap dengan filosofi yang ada di dalamnya. Ini dia;
1. GATRA RINONCE
Tanaman jati, mulai dari akar, pohon dan daun dapat dimanfaatkan. Kayunya merupakan bahan baku meubelair, kerajinan bubut kayu. Tunggak dan akarnya (gembol) dapat diolah menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Sekar (bahasa Jawa) berarti bunga, jati (pohon jati) sehingga bermakna tumbuh suburnya pohon jati di Kabupaten Bojonegoro selaras dengan perkembangannya sentra-sentra kerajinan kayu jati (meubel, bubuk kayu, gembol) sebagai roda kemajuan dan kreativitas masyarakat Bojonegoro dalam mengolah dan memanfaatkan tanaman kayu jati agar dapat meningkatkan taraf hidup.
3. JAGUNG MIJI EMAS
Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jagung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung, miji (bhs jawa) berarti berbiji, emas, memiliki makna tanaman jagung di Bojonegoro adalah yang terbaik sehingga dapat meningkatkan nama Bojonegoro dengan hasil panen jagungnya.
4. MLIWIS MUKTI
Mliwis mukti adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di wilayah kabupaten Bojonegoro. Mliwis (bahasa Jawa) berarti burung belibis jelmaan prabu angling dharmo, Mukti (bhs.jawa) berarti mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi, bukan sembarang meliwis, karena jelmaan raja, yang dapat momotivasi masyarakat Bojonegoro untuk bekerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
5. PARANG DAHANA MUNGAL (KAYANGAN API)
Kayangan api adalah salah satu objek wisata andalan di kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api PON XV tahun 2000. Parang (bahasa Jawa) bearti rmiring, dahana (bahasa Jawa) berarti api, mungal (bahasa Jawa) berarti menyala/berkobar sepangang waktu. Simbol masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat sekitarnya.
6. PARANG LEMBU SEKAR RINAMBAT
Sapi yang ditambatkan di kandang berbentuk barisan miring dengan kombinasi warna hitam-putih menggambarkan di masa mendatang Kabupaten Bojonegoro akan menjadi pusat pengembangan peternakan sapi. Parang lembu (bahasa Jawa) berarti deretan sapi yang ditambatkan membentuk barisan miring. Sekar Rinambat, (bahasa Jawa) berarti bunga yang selalu merambat tanpa batas. Parang lembu sekar rambat bermakna; Kabupaten Bojonegoro dikenal harum karena peternakan sapinya sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
7. PARI SUMILAK
Kesuburan tanah (warna cokelat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat apabila ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga mampu meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa Jawa) berarti padi, sumilak (bahasa Jawa) berarti sudah mulai menguning dan siap dipanen,sehingga secara keseluruhan “pari sumilak” mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di seluruh wilayah Bojonegoro. Diharapkan di masa datang Bojonegoro menjadi lumbung padi.
8. RANCAK THENGUL
Wayang thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro. Berbentuk tiga dimensi, terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita, menak dan panji. Gunungan/kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa Jawa) mengandung arti seperangkat Rancak Thengul sebagai warisan kesenian tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan Pusaka Budaya (cultural heritage).
9. SATA GANDA WANGI (TEMBAKAU)
Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal seluruh nusantara sehingga menjadi salah satu produk unggulan lainnya, selain kayu jati. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma yang khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa Jawa) berarti tembakau, ganda (bahasa Jawa) berarti aroma, wangi (bahasa Jawa) berarti harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya. [Referensi : dari sini dan dari sini]
Cerah dan tidaknya masa depan batik nantinya adalah tergantung dari peduli atau tidaknya kita terhadap warisan nusantara kita sendiri. Jadi mari kita cintai dan perkenalkan warisan kita pada dunia agar semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya budaya.
4. BEBERAPA KOLEKSI BATIKKU
Ini hanya beberapa dari koleksi batik punyaku. Tidak mungkin juga aku foto semua. Nah, yang baju warna putih itulah contoh batik Jonegoroan. Batiknya percampuran antara Gatra Rinonce dan Mliwis Mukti. Sepertinya aku mesti update koleksi batikku lagi deh. Semoga saja ada rejeki. Aamiin.
Dan demikianlah ceritaku mengenai Aku dan Batik Semoga bermanfaat. Salam :)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam;
NB : Terhitung ada 28 gambar di postingan ini, aku beri keterangan seperti ini karena takutnya ada beberapa gambar yang tidak muncul. Kadang-kadang itu terjadi bila kecepatan internet tidak stabil. Dalam postingan ini, ada satu gambar yang mewakili setiap proses kegiatan membatik. Terima kasih :)
Setelah itu, aku dan ibuku sering kompakan beli kain batik dengan motif yang sama, kami juga sama-sama berdiskusi mengenai desain batik kami sendiri sebelum menyerahkannya kepada tukang jahit. Kami suka membuat baju dengan model yang sama. Tujuannya tentu saja biar semakin kembar dan semakin terlihat kompak. Banyak yang bilang aku itu fotocopy ibuku waktu muda. Lagi pula ibuku juga tidak terlihat setua umurnya. Orang-orang kadang mencandai kami bahwa kami mirip adik dan kakak. Apalagi pakai batik yang corak dan modelnya sama persis. :)
2. PENGALAMANKU MEMAKAI BATIK
Selain koleksi bajuku dan ibu yang bermodel sama. Ada bermacam-macam model baju batik lain yang aku punya. Kadang-kadang aku juga beli kain batik yang biasanya aku jahitkan sepasang dengan calon suamiku, atau lebih dikenal dengan sarimbit. Harga baju sarimbit yang sudah siap pakai di toko batik yang ada di Bojonegoro relatif mahal. Memang sih bagus, tapi waktu itu aku punya pendapat bahwa, ah cari yang murah aja, tapi sering gonta-ganti. Sebenarnya ini pendapat yang akhir-akhir ini aku anggap keliru. Karena batik yang mahal itu memang batik yang bagus dan berkualitas.
Terhitung, aku dan Mas Widy, calon suamiku, punya tiga sarimbit. Masing-masing berwarna, kuning, merah bata, dan biru. Untuk sarimbit yang warnanya kuning, aku dulunya beli berupa kain, lalu aku jahitkan ke tukang jahit. Sedangkan yang warna merah bata, beli jadi di toko batik, karena saat itu, waktu penggunaannya mepet banget. Jadi waktu itu ada teman SMA-ku yang mau nikah, aku bingung, pasti rasanya tidak lengkap kalau aku dan Mas Widy tidak memakai sarimbit di sebuah acara pernikahan. Jadi meluncurlah aku ke toko batik. Awalnya mau beli di toko batik online, tapi dipikir-pikir nanti masih harus nunggu batiknya sampai. Normalnya butuh waktu sekitar tiga hari baru sampai. Ya udahlah beli di toko aja, kata ibuku.
Enggak cocoknya aku sama batik yang beli di toko adalah ukurannya yang tidak sesuai dengan badanku. Selalu kebesaran. Aku emang berperawakan kurus. Jadi bingungnya, ukuran batik yang buat cowok pas, tapi yang buat ukuranku kebesaran. Akhirnya aku harus mengalah untuk mengubah ukurannya ke tukang jahit.
Batik yang berwarna biru kami beli di Solo. Waktu itu ceritanya, adikku yang nomor satu kecelakaan sampai tangan kanannya patah, dan harus dibawa ke RS. Kustati di Solo. Kebetulan waktu itu, aku dan Mas Widy nengokin dia di sana. Waktu sore-sore kami iseng keluar rumah sakit dan pengin jalan-jalan naik becak keliling alun-alun dan keraton. Eh si tukang becak tiba-tiba aja nanya, "Mbak, Mas, mboten pengin tumbas batik? Teng mriki celak kalian peken." yang artinya, "Mbak, Mas, nggak pengin beli batik? Di sini dekat sama pasar." Kami yang memang berencana membeli batik pun langsung mengiyakan tawaran bapak tukang becak. Kami dibawa ke sebuah butik batik yang lumayan besar. Tapi kelihatannya juga melayani para tengkulak yang ingin menjual kembali batik-batik yang diproduksi di butik batik tersebut.
3. PENDAPATKU TENTANG MASA DEPAN BATIK
Setelah mendapat pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), semestinya kita patut bersyukur karena batik dinyatakan sebagai warisan budaya tak benda tingkat dunia. Hal ini jelas sangat berpengaruh besar terhadap masa depan batik itu sendiri. Namun hal tersebut harus pula ditunjang oleh kecintaan dan rasa bangga masyarakat Indonesia sendiri pada batik. Sebab, bila masyarakat sudah bangga dan cinta, maka mereka pun tidak segan-segan mengenalkan batik pada negara lain, dan justru merasa bangga memiliki peninggalan batik yang indah, memiliki ciri khas dan nilai budaya yang tinggi.
Saat ini perkembangan batik sudah sangat pesat. Terlihat dari kian menjamurnya butik batik dan toko batik online, juga masyarakan yang mulai sadar untuk mengenakan batik di berbagai acara penting mereka.
Baru-baru ini muncul berita yang menghebohkan mengenai batik China yang mulai mengancam batik asli Indonesia. Dikabarkan banyak beredar batik dengan harga sangat murah di berbagai pasar batik Salah satunya di Pasar Klewer Solo. Banyak batik dengan motif campuran antara parang rusak, flora, dan juga beberapa gambar hewan yang dijual dengan harga mulai Rp. 25.000,- – Rp. 30.000,- untuk satu potong baju atasan.
Harga di atas rasanya kurang masuk akal, meskipun untuk kualitas batik cetak sekalipun. Bayangkan saja untuk biaya kain, biaya cetak, biaya potong dan juga biaya jahit, bagaimana bisa semurah itu? Tak bisa dibayangkan. Gambar di bawah ini adalah contoh batik dari China.
![]() |
| sumber gambar dari sini |
Meski dari segi kualitas batik Indonesia jauh lebih bagus dibanding batik China, namun kita harus terus waspada dan melakukan antisipasi agar batik asli Indonesia tidak kalah populer dengan batik China di negeri sendiri.
Dan sebagai langkah antisipasi, kita tidak boleh malas untuk mengenalkan batik Indonesia ke ranah internasional. Mengenalkan batik dapat ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengenakan batik pada berbagai acara penting. Seperti halnya Agnes Monica. Memang terkadang aku kurang suka dengan model pakaiannya yang terlalu terbuka, tapi jujur aku sangat salut sekali saat dia mengenakan batik di berbagai acara internasional. Hem, cantik, ya!
![]() |
| sumber gambar dari sini |
![]() |
| sumber gambar dari sini |
Di samping itu semua, aku juga sangat bangga sekali karena di kota kelahiranku Bojonegoro, sudah mulai menggali potensi desain batik baru lewat lomba-lomba yang diadakan sebagai sarana penjaring desain baru yang dianggap mewakili ciri khas Kota Bojonegoro.
Aku sih sempat mau ikut, tapi berhubung waktu itu ada sesuatu hal yang harus didahulukan dibanding ikut lomba, jadi ya kesempatan itu harus rela aku lepaskan. Huhu... Tapi hal tersebut tidak lantas membuatku tidak mencintai batikhasil karya masyarakat Bojonegoro, kok. Terbukti salah satu koleksi batikku adalah batik asli Bojonegoro.
Untuk saat ini sebagai bukti cintaku pada batik Bojonegoro, aku akan mengenalkan pada kalian beberapa desain batik Bojonegoro lengkap dengan filosofi yang ada di dalamnya. Ini dia;
1. GATRA RINONCE
Visualisasi perpaduan RIG (alat mengambil minyak) dan gas bumi digambarkan sulur dan bunga , dimana satu dan lainnya saling berhubungan dalam satu kesatuan bentuk. Warna hijau dan kuning melambangkan kemakmuran, kemuliaan, dan keindahan. Ga (Gas) Tra (Patra) berarti minyak dan gas, Rinonce (bahasa Jawa) berarti ditata satu persatu,dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah sehingga bermakna adanya gas dan minyak bumi, apabila dikelola dengan baik dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia, dapat meningkatkan taraf hidup, harkat dan martabat bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Bojonegoro.
2. SEKAR JATI
3. JAGUNG MIJI EMAS
Jagung merupakan tanaman yang merakyat dan tumbuh subur di kabupaten Bojonegoro. Hasil yang melimpah menggambarkan bahwa jagung juga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus sebagai salah satu pengganti makanan pokok beras. Jagung, miji (bhs jawa) berarti berbiji, emas, memiliki makna tanaman jagung di Bojonegoro adalah yang terbaik sehingga dapat meningkatkan nama Bojonegoro dengan hasil panen jagungnya.
4. MLIWIS MUKTI
Mliwis mukti adalah jelmaan Prabu Angling Dharmo (raja Malowopati) yang menurut legenda kerajaannya dianggap pernah ada di wilayah kabupaten Bojonegoro. Mliwis (bahasa Jawa) berarti burung belibis jelmaan prabu angling dharmo, Mukti (bhs.jawa) berarti mulia, sehingga bermakna meliwis yang mulia/tinggi, bukan sembarang meliwis, karena jelmaan raja, yang dapat momotivasi masyarakat Bojonegoro untuk bekerja keras, tekun dan ulet dalam berkarya guna mencapai kemakmuran.
5. PARANG DAHANA MUNGAL (KAYANGAN API)
Kayangan api adalah salah satu objek wisata andalan di kabupaten Bojonegoro. Merupakan sumber api abadi terbesar di Asia Tenggara dan pernah menjadi tempat pengambilan api PON XV tahun 2000. Parang (bahasa Jawa) bearti rmiring, dahana (bahasa Jawa) berarti api, mungal (bahasa Jawa) berarti menyala/berkobar sepangang waktu. Simbol masyarakat Bojonegoro yang dinamis, semangat dan mampu memberikan cahaya bagi masyarakat sekitarnya.
6. PARANG LEMBU SEKAR RINAMBAT
7. PARI SUMILAK
Kesuburan tanah (warna cokelat) di bumi Angling Dharmo, sangat tepat apabila ditanami padi dan dibudidayakan secara maksimal sehingga mampu meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat Bojonegoro. Pari (bahasa Jawa) berarti padi, sumilak (bahasa Jawa) berarti sudah mulai menguning dan siap dipanen,sehingga secara keseluruhan “pari sumilak” mempunyai makna padi yang sudah siap dipanen di seluruh wilayah Bojonegoro. Diharapkan di masa datang Bojonegoro menjadi lumbung padi.
8. RANCAK THENGUL
Wayang thengul merupakan salah satu kesenian tradisional khas yang hidup dan berkembang di Kabupaten Bojonegoro. Berbentuk tiga dimensi, terbuat dari kayu dengan asesoris kain sebagai busananya. Dasar cerita, menak dan panji. Gunungan/kalpataru-nya juga berbahan kayu dan bulu burung merak. Rancak Thengul (bahasa Jawa) mengandung arti seperangkat Rancak Thengul sebagai warisan kesenian tradisional di Kabupaten Bojonegoro akan selalu terjaga eksistensinya, menjadi ikon Bojonegoro, lebih dikenal dan digemari masyarakat luas dan sekaligus sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan salah satu warisan Pusaka Budaya (cultural heritage).
9. SATA GANDA WANGI (TEMBAKAU)
Sejak dahulu tembakau Bojonegoro sudah dikenal seluruh nusantara sehingga menjadi salah satu produk unggulan lainnya, selain kayu jati. Jenis tanaman yang cocok untuk tanaman ini menghasilkan aroma yang khas/harum yang berbeda dengan daerah lain. Sata (bahasa Jawa) berarti tembakau, ganda (bahasa Jawa) berarti aroma, wangi (bahasa Jawa) berarti harum, sehingga bermakna tembakau Bojonegoro memiliki aroma harum. Diharapkan nama Bojonegoro menjadi harum dan terkenal lewat tembakau sebagai salah satu potensinya. [Referensi : dari sini dan dari sini]
Cerah dan tidaknya masa depan batik nantinya adalah tergantung dari peduli atau tidaknya kita terhadap warisan nusantara kita sendiri. Jadi mari kita cintai dan perkenalkan warisan kita pada dunia agar semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya budaya.
4. BEBERAPA KOLEKSI BATIKKU
Ini hanya beberapa dari koleksi batik punyaku. Tidak mungkin juga aku foto semua. Nah, yang baju warna putih itulah contoh batik Jonegoroan. Batiknya percampuran antara Gatra Rinonce dan Mliwis Mukti. Sepertinya aku mesti update koleksi batikku lagi deh. Semoga saja ada rejeki. Aamiin.
Dan demikianlah ceritaku mengenai Aku dan Batik Semoga bermanfaat. Salam :)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam;
NB : Terhitung ada 28 gambar di postingan ini, aku beri keterangan seperti ini karena takutnya ada beberapa gambar yang tidak muncul. Kadang-kadang itu terjadi bila kecepatan internet tidak stabil. Dalam postingan ini, ada satu gambar yang mewakili setiap proses kegiatan membatik. Terima kasih :)


















